Mensyukuri Realitas
Diposting oleh
Unknown on 08.59
Bila manusia MAU sadar, dan MAU mensyukuri betapa rahmat kasih sayang serta karunia Allah...
yang serba Maha, maka dia tak akan pedulikan lagi takdir yang
menimpanya. Apakah ditakdirkan berwajah cakep atau jelek, sehat sempurna
atau ada cacat, dst., hingga realitas kaya atau miskin sekalipun. Dia selalu syukuri realitas apapun yang kini diraih dan tengah dihadapinya.
Dan konteks makna bersyukur itu juga niscaya dibarengi dengan ikhtiar. Dalam
hal ibadah magdhah (pokok) seperti shalat, dia akan terus-menerus
meningkatkan kualitas shalatnya secara khusyu (bersungguh-sungguh). Juga,
dia pun besyukur pula dengan menerapkan nilai khusyu itu secara
Kaaffah, yaitu dia berlaku khusyu di saat-saat sebelum shalat dan ketika
sesudahnya.
Dalam
hal ikhtiar duniawi, dia tentu akan berupaya terus-menerus guna
mencapai tahapan yang lebih baik dengan tata cara yang ithqan (dengan
sebaik-baiknya), termasuk upaya dalam hal mencari nafkah ataupun materi
/ kekayaan secara halalan toyiiban. Karena kewajiban manusia hanyalah
berikhtiar. Adapun hasilnya, secara full yakin dia serahkan kepada Allah ta’ala. Sebab dia sadar, bahwa Allah akan selalu Memberikan hasil terbaik baginya. Dia
amat yakin dan sadar, bahwa tebaran berbagai kenikmatan dari Allah
senantiasa tercurah bagi semesta alam dan seisinya, termasuk bagi dirinya.

Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Share your views...
0 Respones to "Mensyukuri Realitas"
Posting Komentar